Makna Filosofi Kupat dalam Tradisi Lebaran di Jawa

Spread the love

Yah, sudah sedikit lagi akan menuju hari Raya Idul Fitri, hari yang dinanti-nanti oleh saudara kita muslim, dimana hari itu adalah hari kemenangan setelah mereka sebulan berpuasa menahan lapar dan haus, dan tentunya menang dalam menjaga kesucian hati, peperangan menjaga nafsu kedagingan (melawan nafsu marah, nafsu tidak baik lainnya).

Sudah bukan hal yang asing lagi bahwa idul fitri sangatlah identik dengan namanya ketupat atau kupat. Adalah nggak afdol rasanya kalo lebaran gak ada sajian kuliner satu ini. Kupat juga menjadi suatu ikon umum pada kartu ucapan lebaran dan hal yang berbau lebaran. Lalu, kok bisa kupat, apakah ada makna dibalikitu? atokah hanya simbol belaka?

Filosofi Kupat
Konon dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat merupakan kependekan dari kata bahasa jawa “ngaku lepat”. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Tradisi kupatan ini konon adalah warisan dari wali songo.
Pada hari raya Lebaran, prosesi kupatan / ngaku lepat biasanya ada tradisi sungkeman yang mana ini menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.
Sekian dulu artikel ini,
Akhir kata saya mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir dan Batin

untuk saudara-saudaraku pembaca blog ini yang merayakannya.


Spread the love

You May Also Like

About the Author: hantuceria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: