Waspadai Bahaya Efek Filter Bubble di Sosial Media

    Beberapa bulan terakhir ini, ada fenomena baru yang bikin ane malas untuk membuka sosial media, hampir setiap buka beranda social media, ane hanya lihat isinya orang debat kusir gak jelas. Hampir ngga bisa dipungkiri adanya pro kontra yang makin panas di masyarakat belakangan ini ternyata ngikut masuk ke sikap dan tingkah laku dalam menggunakan teknologi internet. Banyak terjadi di sosial media adanya debat kusir yang ngga ada juntrungannya, kadang yang bikin malas itu pake istilah kasar kebon binatang, Selain itu banyak juga saling mencela saling memaki dan menghina. Banyak juga yang sampai sidang ke pengadilan. Mungkin lupa dia kalo Indonesia ada hukum yang mengatur penggunaan teknologi, yup UU ITE yang beberapa hari lalu udah disahkan revisi nya. Yah fenomena ini diawali dengan adanya perubahan algoritma dalam penyeleksian konten. Mungkin Kejadian ini makin menjadi saat ini dikarenakan akibat dari Social Media yang mengubah algoritma isian konten halaman beranda dari sosial media itu yang dulunya berbasis timeline (waktu), sekarang diganti berdasarkan filter/penyaringan berdasar histori riwayat aktivitas masa lalu pengguna nya.
    Yah fenomena ini dinamakan EFEK FILTER BUBBLE.

    Mari kita bahas Apa Itu Filter Bubble dan Apa Bahaya nya 🙂
    Asal usulnya, pertama kali istilah ini diperkenalkan oleh seorang aktivis internet terkemuka bernama Eli Pariser. Menurut informasi dari Wikipedia dan beberapa sumber yang ane baca, Arti dari Filter Bubble adalah sebuah kondisi hasil formulasi hitungan perkiraan algoritma penyaringan pada sebuah situs yang akan menebak info apa saja yang kira kira pengguna tersebut ingin lihat. Formulasi ini berdasarkan informasi aktifitas terakhir tentang pengguna seperti lokasi, Riwayat klik, riwayat like, pertukaran komentar, dan riwayat pencarian sebagai hasilnya, pengguna menjadi tersingkir dari berbagai macam informasi yang tidak selaras dengan pandangan mereka.

    Contohnya adalah (ane kembangkan dari wikipedia aja) hasil personalisasi pencarian Google dan aliran berita yang ada di beranda Facebook kita. pengguna sosial media akan mendapatkan informasi yang lebih sedikit untuk sudut pandang yang bertentangan dengan sudut pandangnya dan terisolasi secara intelektual dalam gelembung informasi mereka sendiri. Om Pariser mengaitkan sebuah contoh di mana satu pengguna menggunakan mesin pencari Google untuk “BP” dan mendapat berita investasi sekitar British Petroleum sementara pencari lain mendapat informasi tentang tumpahan minyak Horizon Deepwater. Hal ini menunjukan bahwa hasil pencarian untuk keyword yang sama yaitu “BP” ternyata menghasilkan dua hasil pencarian yang “sangat berbeda., misal pengguna itu adalah fans sepak bola, maka hasil pencarian BP bisa memunculkan ” Bambang Pamungkas”, berbeda lagi dengan hasil pencarian pengguna lain.

    Dengan adanya pengelompokan-pengelompokan hasil penyaringan itu tentunya akan secara efektif mengisolasi seorang penggunaa sosial media dalam gelembung ideologi mereka sendiri. Bahaya dari efek filter bubble ini, seorang pengguna sosial media akan seolah-olah terkurung didalam balon imajiner, yang mana isi dari balon itu adalah mayoritas orang-orang yang sependapat/sepemikiran dengan pengguna sosial media tersebut. dimana orang-orang itu ditemukan oleh sosial media dari hasil penyaringan. Tentunya keadaan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir dan respon di masyarakat. Pengguna Sosial media tersebut hanya disodori pengguna sosmed lain yang pro dengan dia, tidak dengan yang kontra dengan dia.

    Secara gampangnya nih ya, bahaya efek filter bubble ini adalah:

    • Bisa menciptakan pemahaman paling benar sendiri dan anti kritik.
      Hal ini menjadi sangat mungkin terjadi, karena selalu disodori pemikiran & pandangan yang sependapat. Sebut saja si A dia mengidolakan Artis Korea Karena selalu disodori berita/postingan pandangan sependapat sepemikiran terhadap artis korea X ini , maka si A akan semakin jauh dari opini dan pandangan di luar itu. Walaupun si B menulis kritik bagus mengenai artis korea X, namun tidak akan sampai ke linimasa si A. Akhirnya semakin lama semakin terbentuk pemikiran “pokoknya Artis Korea X yang paling bagus, yang lain jelek”.
    • Efek Konsensus yang salah
      Kalo misal nih, si A tadi ditanya, “Seberapa tingkat kepopuleran
      Artis korea X sekarang?”, bisa jadi serta-merta makclenger dia akan menjawab, “Wah, bagus banget bahkan sangat bagus. Di linimasa sosial mediaku semuanya mengidolakan dan kenal Artis Korea A.” Nah Ini nih yang disebut Efek False-Consenssus: kecenderungan orang untuk mengeklaim bahwa orang lain semua sepaham dengan dia, padahal belum tentu, mungkin banyak juga teman FB dia yang tidak mengetahui keberadaan Artis Korea X tersebut. Dalam kondisi biasa saja efek ini umum berlaku, apalagi kalau ditambah buruk dengan adanya kehadiran filter bubble, bisa makin parah coooiy.

    Nah sudah tau kan bahaya nya efect dari filter bubble ini, mari kita jadi pengguna sosial media yang cerdas, berpikiran yang dewasa, fair dan objektif, serta berpikiran terbuka. Jangan sembarangan mudah percaya pada satu sumber, bandingkan dengan sumber sumber valid lain agar pikiran kita lebih netral stabil dan berdasar fakta Jangan mengurung diri di gelembung informasi yang kurang luas.
    Semoga kita semua terhindar dari efek buruk filter bubble.

      Tinggalkan Balasan

      Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *