Antara Tugas dan Perasaan

    Hari ini, seperti biasa ane berkeliling djakarta pake mode transportasi andalannya yaitu transjakarta, dan ane pun naik di koridor yang bener-bener idola ane hehe.. yaitu busway tije koridor 1 yup, koridor yang melayani jalur utama jakartah yang membentang dari terminal blok M sampai Halte Kota Tua, yang punya pintu masuk nyeleneh *ane pernah bingung mau masuk ke halte ini*, yup jalur utama jakarta sepanjang Jl Sisingamangaraja, Thamrin, Sudirman SCBD, Monas yang dikanan kirinya banyak gedung2 pencakar langit. Kenapa Koridor ini idola ane? yupz… koridor ini konon juga yang dibanggakan & jadi anak emas. Koridor ini dilengkapi dengan armada bus yang masih juozzz… masih bagus, bersih, kinclong, kinyis kinyis, AC Adem Sejuk Seger, Ngga berisik+Polusi. Busnya juga idola ane, bentuknya unik dah kayak kereta api aja dengan lokomotif yang terkesan sedang memberi senyum kepada calon penumpangnya. ZhongThong Bus, yah ini bis idola ane!

    image

    senyumnya menggoda

    Namun, hari ini ane agak punya rasa berbeda dikit, yah yang menjadikan sedikit pemikiran buat ane, menjadi dilema *bener gak ya bahasanya* Jadi, di busway kan di pisahkan antara gerbong buat cowo dan cewe, salut ane sama metode ini dan sepenuhnya dukung, buat mengurangi tangan tangan jahil or adanya para omes hhahaha… sepertinya adalah hal biasa ketika ada cowo yang nyempil di gerbong cewe dan ditegur oleh onboardnya secara halus untuk dipersilakan menempati posisi di gerbong cowo. Yah namanya peraturan, salut saya sama onboardnya yang tegas dan berani mengingatkan 🙂

    Nah, lain halnya dengan yang ane lihat beberapa waktu lalu, disini ada sepasang kakek dan nenek, dimana mereka sudah buyuten kalo orang jawa bilang (sudah semacam gemetaran buat berdiri) kasian saya melihatnya. Nah waktu itu, di gerbong cewe,ada bangku kosong beberapa, dan si nenek beserta kakek ini duduk di kursi itu. Tak lama kemudian sang onboard menegur si kakek untuk tidak di area cewe ini dan mempersilakan untuk ke bagian cowo (padahal gerbong belakang penuh ini), dan si kakek pun dengan sigap berdiri dan minta maaf ke onboard tersebut kalo ga tau tidak boleh duduk disitu, ane kasian banget liat si kakek ini berdiri sambil gemeteran dan beliau dipegangi si nenek karena berdirinya mboyag-mbayig (ga seimbang, kek mo jatuh). Jujur ane kasian waktu liat itu, kalo ane pas posisi duduk,ane persilakan kakek itu duduk di kursi ane, sayangnyaane pada waktu itu berdiri juga.

    Dari kasus yang ane lihat itu, apabila ane semisal ada di posisi onboardnya mungkinmengalami hal yang membingungkan dan menciptakan sebuah dilema hati, disaatu sisi apabila menggunakan hati nurani, pasti merasa kasihan dan mempersilakan si kakek itu duduk, namun di sisi lain, adalah sebuah peraturan yang perlu ditegakkan bahwa area cewe , yah yang namanya peraturan emang kudu dilaksanakan. Hmmm… kalo pendapat kalian gimana? seandainya kalian ada di posisi onboard itu?

    => sempat teringat, di pojokan bis deket supir ada kursi prioritas, apakah fungsi kursi ini, apakah bisa digunakan untuk si kakek tersebut?

    OverAll ane suka sama pelayanan bisway ini, ane jadi lebih bisa mengenal jakarta, bisa keliling jakarta hanya dengan ikut berpusing-pusing deng7an transjakarta, onboard sejauh yang ane temui ramah ketika ditanyai oleh orang baru & udik macam ane ini.

    === HANYA SEBUAH OPINI, TIDAK BERMAKSUD LAIN ===

      Tinggalkan Balasan

      Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *